Tarif Ojol Naik Percuma: Serikat Pekerja Sebut Driver Tak Rasakan Dampak
Pemerintah dan platform ojek online (ojol) kembali mengumumkan kenaikan tarif sebagai langkah untuk membantu kesejahteraan pengemudi. Namun, langkah ini dikritik oleh Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) yang menilai kenaikan tarif ojol hanyalah ilusi, karena driver tidak benar-benar merasakan dampaknya di lapangan.
Kenaikan tarif yang diumumkan justru menimbulkan kekhawatiran baru bagi driver karena bisa menurunkan jumlah order dari penumpang, sementara pendapatan mereka tetap terpotong oleh sistem komisi platform yang belum berpihak pada kesejahteraan pengemudi.
“Tarif Naik, Penghasilan Tak Bertambah”
Ketua SPAI, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa kenaikan tarif ojol tidak otomatis meningkatkan pendapatan driver. Hal ini terjadi karena potongan komisi platform tetap besar, bahkan beberapa insentif yang selama ini menjadi harapan pengemudi semakin sulit dicapai akibat tingginya target penyelesaian order harian.
“Tarif naik tapi potongan tetap, penumpang makin sedikit, akhirnya pendapatan driver stagnan atau bahkan turun,” ungkap perwakilan SPAI.
Selain itu, kenaikan tarif juga belum disertai dengan peninjauan ulang sistem perhitungan jarak dan waktu tunggu yang selama ini tidak adil bagi pengemudi, terutama mereka yang bekerja di area dengan lalu lintas padat.
Penumpang Berkurang, Order Menyusut
Kenaikan tarif membuat sebagian penumpang berpikir ulang untuk menggunakan ojol, terutama bagi mereka yang memiliki pengeluaran harian terbatas, seperti pekerja kantoran, pelajar, dan pedagang kecil yang mengandalkan ojol sebagai transportasi harian mereka.
Penurunan jumlah penumpang ini akhirnya berdampak pada menyusutnya jumlah order driver, yang semakin memperparah kondisi mereka meski tarif di aplikasi tampak lebih tinggi dari sebelumnya.
Potongan Komisi Platform Jadi Sorotan
Masalah lain yang disorot oleh Serikat Pekerja adalah sistem potongan komisi platform yang masih berkisar antara 20-25% dari tarif yang dibayarkan penumpang. Artinya, meskipun tarif naik, bagian yang diterima pengemudi tetap kecil setelah dipotong platform, biaya bahan bakar yang terus naik, serta biaya perawatan kendaraan yang harus mereka tanggung sendiri.
Serikat Pekerja menekankan bahwa kenaikan tarif seharusnya diikuti dengan penyesuaian potongan komisi agar kenaikan tarif benar-benar berdampak pada kesejahteraan driver.
Apa yang Diharapkan Driver?
Para driver berharap agar kebijakan kenaikan tarif tidak hanya menjadi simbol bantuan, tetapi benar-benar diiringi dengan kebijakan pendukung lain seperti:
✅ Peninjauan ulang sistem potongan komisi yang lebih adil.
✅ Perbaikan sistem insentif agar lebih realistis dan terjangkau.
✅ Perlindungan sosial dan kesehatan bagi pengemudi sebagai pekerja rentan.
✅ Pelibatan perwakilan driver dalam pengambilan kebijakan tarif.
Naik Tarif Bukan Solusi Tunggal
Naiknya tarif ojol seharusnya menjadi angin segar bagi para pengemudi yang selama ini berjibaku di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, jika tidak dibarengi dengan perbaikan sistem bagi hasil, perlindungan kerja, dan evaluasi sistem insentif, kenaikan tarif hanya akan menjadi langkah percuma.
Serikat Pekerja menekankan, agar kenaikan tarif benar-benar berdampak, perlu adanya dialog terbuka antara pemerintah, platform, dan driver untuk merumuskan kebijakan yang adil dan berpihak pada kesejahteraan pengemudi, bukan hanya sekadar kebijakan populis tanpa hasil nyata.